Trabas Sidringo

Dieng Trail Adventure d-tac

Aerialshot Sidringo

Trabas Telaga Sidringo Dieng

Aerialshot Sidringo

Telaga Sidringo dari ketinggian saat turun kabut

Track Trail

Track trabas motor trail dikomplek telaga Sidringo

Banjarnegara Backpacker

Blog yang mengulas sosial,budaya,pariwisata dan Potensi sumber daya Banjarnegara dan sekitar

Elang Jawa Belum Punah

Januari 09, 2017 2

Elang jawa terpantau di atas sungai serayu [dok. tim ekspedisi serayu]

Setelah tim sosial budaya Ekspedisi Serayu  menghasilkan temuan mengejutkan tempat yang diduga sebagai bengkel kerja pembuatan candi Dieng,  tim biota sungai menemukan hal tak terduga. Elang Jawa (Nisaetus Bartelsi) yang banyak orang mengira telah punah, terlihat di atas aliran Serayu, bahkan terlihat di tiga tempat berbeda. 

Pada hari kedua dan ketiga ekspedisi, tim menjumpai elang Jawa terbang di atas aliran Serayu, tepatnya di aliran sungai Serayu yang meilntas di Desa Tambi, di atas aliran Curug Sikantong, serta di atas Curug Silembu Desa Maron Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo. 

Peneliti dari Magister Ilmu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Gunanto Eko Saputro meyakini bahwa apa yang dilihatnya adalah elang Jawa. Dari bentuk, warna dan ukurannya, itu elang Jawa, bukan bido. Karena bulunya hitam rata, tidak blirik layaknya Bido Menurut Organisasi Konservasi Dunia IUCN, elang jawa termasuk kategori endersered species, atau spesies yang terancam kepunahannya. Elang Jawa juga salah satu hewan yang dilindungi oleh Undang Undang. Karenanya temuan ini sungguh mengejutkan dan menggembirakan.

Elang jawa terpantau di atas sungai serayu [dok. tim ekspedisi serayu]
Elang Jawa biasanya tinggal di habitat pohon atau tebing-tebing yang tinggi. Kawasan aliran serayu di hulu sangat cocok sebagai habitat elang Jawa karena masih banyak tempat yang tak terjamah manusia. Di situlah biasanya elang Jawa tinggal. Oleh karena itu dengan temuan ini menggugah kesadaran masyarakat, pemerintah dan pihak terkait, agar menjaga lingkungan tempat dimana elang Jawa bisa hidup. Agar kelak anak cucu kita masih bisa melihat bagaimana wujud dari elang jawa  Narasumber: Heni Purwono [ketua tim sosbud eks. serayu] posted by: Havid Adhitama

Rencana Relokasi Korban Tanah Bergerak Desa Suwidak Kecamatan Wanayasa

Desember 21, 2016 0
Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Suwidak, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah



 Rencana Relokasi :
Mengingat daerah bencana sangat rawan terhadap bencana gerakan tanah, maka pemerintah desa berenca memindahkan pemukiman (relokasi), ke RT 1/ RW 3, Dusun Buana, Desa Suwidak, Kecamatan Wanayasa,  secara geografi terletak pada koordinat : 7° 19' 10,024"LS dan 109° 44' 48,602"BT. Secara umum kondisi lahan relokasi sebagai berikut:

  • Luas tanah daerah rencana relokasi sekitar 0,9 Ha dengan tata guna lahan adalah persawahan dan merupakan tanah kas desa (bengkok kepala dusun).
  • Jarak dengan lokasi bencana sekitar 1,45 km, lokasi ini berdekatan dengan lokasi tempat relokasi lama yang pernah dilakukan Pemerintah Kabupaten.
  • Pencapaian lokasi sekarang dengan jalan tanah dan perkerasan (lebar  3 m)
  • Morfologi daerah calon relokasi berupa lereng datar - landai dengan kemiringan 0 - 50.
  • Batuan dasar penyusun daerah relokasi sama dengan daerah bencana berupa serpih, napal dan batupasir gampingan dengan kemiringan perlapisan batuan secara umum masuk ke dalam lereng. Hal ini relative menguntungkan terhadap gerakan tanah.
  • Tataguna lahan berupa  persawahan, di bagian utara merupakan pemakaman dan kebun salak dan kebun campuran dengan tanaman keras agak jarang.
  • Keairan daerah calon relokasi air permukaan sangat melimpah karena berdekatan dengan Sungai Merawu dan air tanah relative dangkal (< 4 m).
  • Dari hasil pengamatan lapangan di daerah tersebut tidak terdapat tanda-tanda terjadinya gerakan tanah baik gerakan tanah lama maupun baru, serta kemiringan lereng yang landai. Hal yang perlu antisipasi adalah pemukiman jangan terlalu dekat ke Sungai maupun alur lembah Sungai serta saluran drainase harus baik supaya tidak memicu terjadinya gerakan tanah. Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara,  Provinsi Jawa Tengah (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), sekala 1 : 100.000, daerah rencana lahan relokasi termasuk ke dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah.
  • Berdasarkan hasil penyelidikan lapangan daerah ini  cukup layak untuk dijadikan sebagai lahan relokasi dengan syarat :
  • Tidak melakukan pemotongan lereng dengan sudut lereng lebih besar dari 250 dengan tinggi lereng lebih dari 1,5 meter.
  • Perlu dibuat saluran kedap untuk air permukaan dan air limbah rumah tangga dan dialirkan ke kaki lereng (agar tidak meresap dan menjenuhi tanah)
  • Penanaman tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng.
  •  


Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

Daerah bencana terletak pada daerah longsoran tipe rayapan lama dan dan aktive kembali karena curah hujuan yang tinggi. Sehingga masih berpotensi bergerak apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sehingga masyarakat yang berada/tinggal di lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama.
Rumah yang rusak berat dan terancam sebaiknya direlokasi ke tempat yang aman
Jika muncul retakan segera menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air hujan tidak masuk/meresap dan menjenuhi tanah pada lereng.
Menanami lereng bagian atas dan tengah dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (tanaman tahunan) yang akarnya dapat mengikat tanah pada lereng.
Lokasi yang usulkan Pemerintah Desa untuk rencana relokasi adalah di RT 1/ RW 3, Dusun Buana, Desa Suwidak, Kecamatan Wanayasa aman dari potensi gerakan tanah namun disarankan, tidak membuat pemotongan lereng dengan sudut lereng lebih besar dari 400 dengan tinggi lereng lebih dari 1,5 meter, perlu dibuat saluran kedap untuk air permukaan dan air limbah rumah tangga dan dialirkan ke kaki lereng (agar tidak meresap dan menjenuhi tanah), penanaman tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi sebagai penguat  lereng, serta  pemukiman jangan terlalu dekat ke Sungai maupun alur lembah Sungai.

di adopsi dari Kementrian ESDM   oleh Havid Adhitama

Kentang dan Evolusi Komoditas Pertanian Dieng

Desember 07, 2016 0
Dieng Terus Alami Evolusi Komoditi Ekonomi 

dokumentasi tim ekspedisi Serayu

Jangan bayangkan komoditas pertanian kawasan Dieng saat ini sama dengan masa lampau. Jika kini hampir seluruh lahan ditanami petani dengan tanaman kentang, maka pada zaman lampau Dieng pernah beberapa kali mengalami evolusi komoditi. Dalam arsip-arsip kolonial, Dieng dikenal sebagai penghasil bunga pitrem. Sebelum tahun 1980-an, komoditas yang banyak dikembangkan di Kecamatan Batur dan Dieng Kulon Banjarnegara adalah bunga pitrem, ditambah tembakau, teh, bahkan ketumbar. 

Menurut sejarawan Banjarnegara dari Universitas Negeri Semarang Tsabit Adzinar Ahmad, kondisi itu berakhir dengan masuknya investor yang menanamkan modal dalam pertanian kentang. Tak hanya itu, keberadaan PT Dieng Jaya yang mengoperasikan pabrik jamur juga sejenak menjauhkan warga Dieng dari pertanian. Namun pada tahun 1990-an, pabrik jamur gulung tikar. “Evolusi komoditi tersebut mengubah pola kehidupan sosial ekonomi masyarakat Dieng Kulon. Termasuk dalam hal ini terjadi revolusi lingkungan yang berimbas pada rusaknya hutan juga terjadi pada tahun-tahun itu” jelas Tsabit.

Honger Odeem munculkan PKK
Hal tersebut dibenarkan oleh sesepuh Dieng Kulon Naryono (65). Pada masa komoditas pertanian di Dieng bunga pitrem, banyak terjadi honger odeem (busung lapar). “Waktu itu memang bayak sekali anak-anak yang busung lapar. Bahkan ketika bupati Banjarnegara berkunjung ke Dieng, beliau pingsan seketika melihat anak-anak Dieng busung lapar. Karena harga pitrem saat itu memang tidak seberapa. Baru ketika pabrik jamur Dieng Jaya mulai beroperasi, warga Dieng sudah mulai terbebas dari kelaparan. 

Meskipun menyedihkan, namun kisah hoger oodem manjadi tonggak munculnya gerakan PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga). Masih menurut Tsabit, saat istri Gubernur Jawa Tengah Isriati Moenadi berkunjung ke Dieng pada tahun 1967, melihat banyak sekali penyakit busung lapar menjadikannya berinisiatif mendirikan gerakan PKK. “Ternyata gerakan tersebut sangat berhasil mengatasi busung lapar di jawa Tengah. Atas keberhasilan itu, presiden RI menganjurkan kepada menteri dalam Negeri Amir Machmud agar gerakan PKK dilaksanakan di seluruh daerah di Indonesia” jelas Tsabit.

dokumentasi tim ekspedisi Serayu bid. sosial budayaKini perekonomian yang ditopang oleh komoditas kentang mulai menurun. Bahkan kualitas alam pun setali tiga uang. Sehingga menurut mantan Kepala Desa Dieng Wetan Slamet Mustangin, jika masyarakat Dieng ingin kembali merasakan kejayaan ekonomi seperti saat awal kejayaan kentang, maka harus melakukan kembali evolusi komoditi. “Masyarakat Dieng semestinya menanam purwaceng, carica, terong belanda, eucalyptus, dan kacang babi (Dieng), karena harga kentang sekarang tidak menentu, selin itu juga sangat merusak lingkungan. Dengan menanam tanaman tersebut, saya yakin Dieng akan kembali makmur dan lingkungan pun akan kembali lestari” ujar Slamet.

Penurunan komoditas kentang di Dieng diperparah lagi oleh kebijakan pemerintah akan impor kentang, kentang yang semula memiliki harga sekitar sekitar Rp. 12.000/kg semenjak dilkakukanya impor kentang oleh pemerintah harga kentang saat ini tidak pernah mencapai angka Rp.10.000/kg. para petani  di Dieng berencana akan mengadakan demo jika diplomasi antara ketua paguyuban petani kentang Dieng dengan pemerintah tidak direspon. 

Dan dari berbagai permasalahan yang ada sepertinya komoditi Dieng akan terus berevolusi. Seiring tuntutan ekonomi warganya. evolusi tersebut memungkinkan menjadikan Dieng semakin maju di sektor ekonomi, dan alamnya lestari.  Narasumber: Heni Purwono (Ketua Tim Sosial Budaya, EKspedisi Serayu) Posted by Havid Adhitama

Rendeng Emas, Tanaman Penahan Longsor Gunung Pakuwaja

November 18, 2016 0
[Kawasan Pegunungan  Dieng. Dok. Tim Ekspedisi Serayu]

Dalam Ekspedisi Serayu, selain mengamati sungai Serayu, Tim Sosial Budaya juga melakukan pengamatan di wilayah-wilayah seputar Serayu mengalir beserta anak-anak sungainya. Salah satu hal menarik adalah di Dusun Kali Putih Desa Tieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Desa itu terlewati Kali Putih, yang muaranya ada di sungai Serayu. Di desa tersebut, berkembang kisah mitologis turun temurun dari nenek moyang, bahwa di Pegunungan Pakuwaja, kawasan hulu Kali Putih yang berada di atas dusun, terdapat tanaman Rendeng  Emas. 

Menurut salah satu warga Makinudin, kisah tersebut sudah turun temurun diwariskan oleh orang tua di Dusun Kali Putih. Menurut kisah tersebut, jika tanaman Rendeng Emas di pegunungan Pakuwaja sampai dicabut, maka Kali Putih akan meluap, dan bahkan Telaga Cebong di kawasan atas akan jebol. “Setelah kami renungkan, ternyata mungkin Rendeng Emas yang dimaksudkan adalah pepohonan yag ada di pegunungan Pakuwaja yang ada di atas dusun kami. Rendeng Emas dapat diartikan sebagai sesuatu yang sangat berharga. Rendeng memang tanaman endemik yang banyak ditemukan disini, dan di pegunungan pada umumnya” ujar Makinudin. 

[Tanaman Rendeng. Dok. Tim Ekspedisi Serayu]

Hal itu ternyata terbukti, tambah Makinudin, paling tidak sudah terjadi tiga kali banjir bandang di Kali Putih, yang menewaskan puluhan warga. Terakhir, pada tahun 2010 dinyatakan 11 warga kali Putih Desa Tieng tewas terbawa arus sungai. Bahkan beberapa mayat ditemukan terseret arus hingga ke Waduk Mrica di Kabupaten Banjarnegara.

“Masyarakat di sini memang dulu melakukan penebangan hutan di pegunungan Pakuwaja. Kini pegunungan itu telah gundul. Hal itu dilakukan karena memang mereka membutuhkan kayu bakar dan membuka lahan pertanian kentang” jelas Mukinudin. Sementara, tanah di pegunungan Pakuwaja adalah hak milik warga, sehingga saat ini sebagian besar tanah saat ini telah ditanami kentang. “Upaya penghijauan sudah beberapa kali dilakukan, tapi bagaimanapun warga tetap menanami pegunungan tersebut dengan kentang karena secara ekonomi hanya hal itu yang dapat dilakukan untuk menopang kehidupan mereka” tambah Makinudin.

[Makinudin, Tokoh Desa Kali Putih. Dok. Tim Ekspedisi Serayu]

Ia bahkan pesimis dengan kondisi lingkungan yang ada di kawasan Dieng. “Mungkin solusi ekstrimnya hanya ada tiga. Pertama, genosida warga kawasan Dieng. Kedua, bedol separuh warga kabupaten di kawasan Dieng. Ketiga, membeli semua tanah yang dimiliki warga di kawasan Dieng. Dan sepertinya ketiga hal itu tidak mungkin dapat dilakukan” keluh Makinudin.

Rendeng Emas Dusun Kali Putih di sebelah barat daya sebenarnya masih ada. Mewujud dari tanaman bambu yang memenuhi sepanjang tebing di atas dusun. Pepohonan bambu tersebut konon ditanami oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai green belt (sabuk hijau) perbukitan di atas Dusun Kali Putih. Warga tidak ada yang berani menebanginya hingga kini. Semoga Ronce Emas lainnya di pegunungan Pakuwaja tetap lestari, sehingga warga di Dusun Kali Putih tak lagi menanggung pagebluk akibat keganasan banjir bandang dari Kali Putih. Narasumber: Heni Purwono (Sejarawan Banjarnegara, Ketua Tim Sosbud Ekspedisi Serayu). Posted by Havid Adhitama

Wayang dari Kulit Manusia dan Gamelan Tertua di Hulu Serayu

November 05, 2016 0
Ada Wayang dari Kulit Manusia, Ada Pula Gamelan Tertua

[Mad Yamin membawa Wayang dari kulit Manusia, Dok. Ekspedisi Serayu. bid. Sosbud]

Lazimnya wayang, biasanya terbut dari kulit binatang, entah sapi maupun kambing. Namun tidak demikian yang ditemukan oleh Tim Expedisi serayu Bidang Sosial Budaya. Di Desa Jojogan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo,  berhasil menemukan wayang yang konon salah satu bagiannya berasal dari kulit manusia. Si empunya wayang, Mad Yamin, mengungkapkan wayang tersebut merupakan warisan dari kakeknya, Mbah Glondong yang merupakan kepala desa yang cukup lama berkuasa di Jojogan. 

“Menurut sesepuh saya, wayang ini didapatkan dari bersemedi di Telaga Balekambang Dieng. Dengan wayang ini, sesepuh saya mampu menjadi dalang terbaik. Meskipun saya sendiri sampai saat ini tidak bisa mendalang” jelas Mad Yamin.

[Gamelan set tahun 1913 di kediaman Mad Yamin, Dok. Eks. Serayu bidang sosial budaya]


Tak hanya wayang aneh tersebut, Mad Yamin juga memamerkan koleksinya yang lain berupa tiga buah keris, serta perangkat gamelan berangka tahun 1913. Nama gamelan tersebut jelas terlihat “Tjadik rama bekel”. Seperangkat alat pewayangan tersebut, menurut Mad Yamin, juga didapatkan secara unik. “Dulu Mbah saya membeli gamelan tersebut dari orang Belanda di Dieng. Mbah saya membelinya dengan barter barang berupa bumbu ketumbar” tambah Mad Yamin.

Pada masanya, Dieng sempat mengalami beberapa kali perganitan komoditas pertanian. Selain ketumbar, dulu juga pernah berjaya pertanian bunga Pitrem/ Piretin, tembakau, kubis, hingga akhirnya kentang menggantikan itu semua sebagai komoditas utama.



["Tjadik Rama Bekel" Gamelan set berangka  1913. Dok. Tim Ekspedisi Serayu. bid Sosbud]

Sayangnya, beberapa koleksi benda kuno milik Mad Yamin kurang terawat, dan beberapa bahkan hilang. Salah satu pegiat budaya Desa Jojogan Bukhori bersama rekan-rekan pemuda berinisiatif untuk merawat benda-benda tersebut, terutama gamelan kuno. Menurut Bukhori, benda-benda dan tradisi budaya di desanya sangat perlu dilestarikan. “Kami memiliki mimpi untuk membuat semacam galeri atau museum mini di desa ini sebagai wadah benda-benda bersejarah. Pak Mad yamin bahkan sudah menyediakan tanah untuk dihibahkan. Kami berharap pemerintah atau pihak-pihak terkait dapat mendukung secara nyata keinginan baik kami” harap Bukhori. Narasumber: Heni Purwono (sejarawan Banjarnegara, Ketua Tim Sosbud Ekspedisi Serayu).  Posted by: Havid Adhitama

Sosok Dibalik Konservasi lingkungan Dataran Tinggi Dieng

Oktober 27, 2016 2

Pelestari Lingkungan Kawasan Dieng

[Perbukitan gunung Prau yang mulai gundul. Dok. Tim Ekspedisi Serayu]

Perawakan kurus dan tinggi tak membuat Slamet Mustangin kehilangan kharisma. Mantan Kepala Desa (Kades) Dieng Wetan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo periode 2007-2014 itu bahkan sempat didemo untuk kembali didaulat menjabat sebagai Kades untuk kedua kalinya. Namun hal itu ditolaknya. Ia lebih memilih untuk berbisnis carica bersama Sri Endar Wati, istrinya. Bahkan ia rela berpindah domisili ke desa tetangga, Patak Banteng, demi menghindari daulat rakyat tersebut. Apa gerangan yang membuat warga Dieng Wetan begitu mencintai pemimpinnya itu?

Ternyata kepedulian Slamet terhadap masyarakat dan juga lingkungan adalah jawabannya. Pada masa awal kepemimpinannya, kondisi kawasan Dieng rusak parah akibat poembalakan liar yang dilakukan oleh masyarakat. Pegunungan Prau Dieng dan sekitarnya hampir gundul seluruhnya. “Hal itu karena masyarakat memang membutuhkan kayu bakar. Kebetulan saat itu masih dalam euforia reformasi, sehingga saat itu Dieng benar-benar rusak lingkungannya” kenang Slamet.

Data Diri:
Slamet Mustangin
Tempat tanggal lahir: Wonosobo, 02 Juli 1970
Istri: Sri Endar Wati
Anak: Ika Syafitri (p), Ari Firmansyah (l)
Alamat: Desa patak Banteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.


Kebetulan saat itu berbarengan dengan program LPG 3 kilogram dari pemerintah, maka Slamet memutar otak dan membujuk masyarakat untuk beralih dari kayu bakar ke gas. “Masyarakat tidak butuh penerangan tentang lingkungan, namun perlu solusi. Bahkan jujur saat itu warga miskin sampai saya jatah 2 tabung LPG 3 kilogram supaya mereka mau beralih dari kayu bakar dari jatah 1 tabung dalam regulasinya. Dipenjara pun waktu itu saya siap, karena yang saya bela adalah kepentingan rakyat miskin dan juga menyelamatkan lingkungan Dieng” tambah Slamet.

Pelan tapi pasti, masyarakat Dieng mulai sadar dan mau beralih meninggalkan kayu bakar. Meski demikian, Slamet tak tinggal diam. Menguatkan kebijakan pro lingkungan, ia mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) yang melarang penebangan hutan. “Sanksinya tidak main-main, denda 1, 5 juta dan kurungan 3 bulan. Ternyata ini berefek jera dan menakutkan bagi masyarakat, sehingga mereka tidak lagi berani membalak hutan” tambah Slamet. 

[Slamet dan Sri, Mantan Kades Dieng Wetan. Dok. Tim Eks. Serayu]

Upaya konservasi pun mulai dilakukan dengaan penanaman tanaman produktif di lahan-lahan kritis. Dengan bantuan dari Pemda Wonosobo, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), JEF dan UNDP, Slamet mengajak warga untuk membudidayakan carica, terong Belanda, dan aneka tanaman produktif lainnya. jika diajak menanam pohon kayu tahunan, masyarakat sini tidak mungkin mau, karena mereka butuh sesuatu yang menghasilkan secara ekonomi. Karenanya slamet mengajak mereka untuk menanam tanaman produktif yang cepat terlihat hasilnya, sekaligus tanaman yang mampu mengurangi erosi tanah di kawasan Dieng.

Pelan tapi pasti, warga Dieng mulai beralih dari komoditas utama kentang menjadi carica. Hasilnya, kini jika kita berwisata ke objek wisata Dieng dari arah Wonosobo, maka puluhan lapak penjual olahan carica berderet sepanjang kanan kiri jalan. Menurut Slamet, harga kentang yang mulai menurun dan menyebabkan kerusakan lingkungan terutama di DAS Serayu, akan teratasi manakala masyarakat beralih komoditas pertaniannya. “Kalau masyarakat Dieng ingin kaya lagi seperti zaman kejayaan kentang, maka mereka harus menanam carica, terong belanda, kacang babi (Dieng), eucaliptus serta purwaceng. Itu ngiras ngirus (sekaligus) menyelamatkan lingkungan Dieng” tandas Slamet. 

Dalam masa kepemimpinannya, Slamet berhasil menyelamatkan seluas 165 hektar tanah hutan pegunungan Dieng yang sekarang menjadi hijau dengan tanaman carica, eucaliptus, dan tanaman-tanaman endemik lainnya. Ia juga mampu menyelamatkan belasan mata air. “Ketika baru menjabat Kades, saya kehilangan 17 mata air. Alhamdulillah sekarang mata airitu sudah muncullagi, tinggal 2 buah yang belum” ujar Slamet. Dalam hal sampah, ia juga berhasil membuat sistem pengolahan sampah masyarakat, serta pemanfaatan biogas dari kotoran ternak yang banyak dikembangkan di Dieng.

Atas keberhasilan itu, Slamet direkomendasikan oleh Bupati Wonosobo Kholiq Arif untuk mendapatkan hadiah berupa hibah waris lahan hutan dari Kementrian Kehutanan seluas 6, 7 hektar di Wana Wisata Petak 9 Dieng. “Saya berharap nantinya wana wisata itu menjadi tempat alternatif wisata selain yang saat ini sudah ada di Dieng, sehingga makin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaatnya” harap Slamet.

[Tempat Produksi Olahan Carica 'Exotic' milik Slamet. Dok.Tim Eks, Serayu]

Kini, lelaki yang sebelum menjadi Kades pernah memiliki 30 karyawan petani di Dieng ini tengah menjalani masa “pensiun” dengan berbisnis carica dengan merek dagang Exotic Carica di Desa Patak Banteng, 3 kilometer dari dataran tinggi Dieng,dan memiliki 15 karyawan. “Memang secara ekonomi menjadi Kades banyak ruginya. Namun saya yakin Allah membalas dengan hal yang lebih baik. Harta bisa dicari, namun umur dan harta yang barokah tidak semua orang bisa mendapatkannya. Saya ingin menjadi orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” pungkas Slamet. Narasumber; Heni Purwono (Sejarawan, Ketua Tim Sosbud Eks. Serayu) 
Posted By: Havid Adhitama

Serayu Tameng Longsor dan Legenda Kali Bayi

Oktober 26, 2016 0
    Serayu Tameng Longsor
[Perbukitan Ngajir, Dokumentasi Tim Ekspedidi Serayu]

Sebagai kawasan yang dikelilingi pegunungan, longsor tentu menjadi ancaman tersendiri bagi warga di Dusun Tlaga Wangi Kelurahan/ Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Keberadaan sungai Serayu di timur dusun tersebut ternyata memiliki manfaat tersendiri. Menurut salah satu warga saat ditemui Tim Sosial Budaya Ekspedisi Serayu, Slamet Kamsuri  sungai Serayu diyakini masyarakat Dusun Tlaga Wangi sebagai tameng dari longsoran bukit-bukit di seberang Serayu. ia mengatakan menurut kisah sesepuhnya, di seberang timur Serayu ada Dusun Pladon. Dusun tersebut tertimbun longsoran dari perbukitan Ngajir, Pending dan Larangan. Namun longsoran tersebut tertahan Serayu sehingga Tlaga Wangi tidak ikut terkena longsor

Warga dusun Paldon akhirnya pindah ke barat sungai Serayu, mendirikan rumah di Dusun Komahan sebelum akhirnya berpindah lagi menjadi kawasan perumahan di Desa Kejajar sekarang.
Bekas longsoran di Pladon, tambah Slamet, masih terlihat dari batang pohon yang tertimbun di perkebunan yang saat ini ditanami kentang. 

[Kali Bayi, Dokumentasi Tim Eks, Serayu]

Tak hanya menyimpan kisah tentang Dusun Plodong, daerah Tegal Wangi juga menyimpan kisah tentang sungai atau Kali Bayi. Banyak orang yang mengira nama yang bermuara di sungai Serayu itu sebagai tempat pembuangan bayi. Masih menurut Slamet, Kali Bayi pada masa lampau digunakan untuk ritual memandikan perempuan yang sedang mengandung. “Perempuan yang sedang hamil empat atau tujuh bulan, serta setelah melahirkan, biasanya dimandikan di sungai itu. Jadilah nama sungai itu Kali Bayi, karena diyakini dengan dimandikan menggunakan sungai tersebut, perempuan yang hamil akan mudah dalam proses melahirkan” ujar Slamet.
Namun, tambah Slamet, saat ini semua tradisi tersebut sudah tidak lagi dilakukan oleh masyarakat Tegal Arum. Narasumber: Heni Purwono (Sejarawan, Ketua tim sosbud eks. Serayu)
Posted by: Havid Adhitama

Peta Banjarnegara